BAGIAN I
Di ceritakan seorang siswa yang mengalami perubahan pembelajaran dari pembelajaran tatap muka (ruangan kelas) beralih ke media sosial (Daring). Menanggapi transformasi pembelajaran melalui daring ia sangat senang karena ia dapat mengoperasikan applikasi/APP yang telah di download melalui playstore, seperti whatsapp, game, dan aplikasi media sosial lainnya. Tidak hanya itu ia juga dapat megirim pesan teks/chatting dan video call, dengan teman se-kelasnya, jika ia menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas yang di berikan oleh gurunya. Raut wajah ceria dan gembira telah ia ungkapkan melalui emoticon/stiker setelah membaca chatting-membalas chatting dari temannya. Tentunya ia sangat paham tentang chatting/pesan teks di rana komunikasi. Namun apakah ia juga tanggap/menaggapi pembelajaran daring yang di lakukan oleh gurunya dan menyelesaikan tugas/pr yang diberikan oleh gurunya?
Ketika ia sudah mampu meng-operasikan gadget dan meng-unduh aplikasi yang berada di playstore sebagai penunjang/selingan, ada impact yang harus ia hindari, karena apa yang sudah ia unduh/download merupakan kesenangannya pada aplikasi tertentu. Sehingga proses yang di alami setiap memegang gadgedt tidak luput dari paradigma bermain gadget (hapean) padahal ia sedang melakukan proses pembelajaran melalui daring. Memang harus diluruskan paradigma yang seperti ini agar tidak membebani mental seorang siswa, karena trasformasi pembelajaran tradisional dilakukan tanpa ada gadget dan harus dilakukan secara tatap muka didalam ruangan kelas. Berbeda dengan pembelajaran daring yang akhir-akhir ini diakukan sebagai pembelajaran modern yang semua alat, penunjang berpusat pada gadget jadi sudah biasa jika tiap harinya memegang gadget dan menatap layar di tindak lanjuti oleh jari tangan yang selalu meng-scrolling.
0 comments:
Posting Komentar