Keadaan berubah sedikit demi sedikit tetesan air hujan jatuh pada batu semakin kelihatan cekungannya, yang semula tiada jadi ada, semacam benturan halus yang membentuk batu itu berubah pada asalnya. Begitu juga diriku, tumbuh dan berkembang berupa bentuk otot yang kekar, badan yang berisi dan nalar yang semakin menjadi, berbagai macam pengetahuan masuk ke dalam tubuhku. Benturan antara proses menjadikan seperti itu tidak terpikirkan oleh masa mudah, alasannya dan tujuannya dapat pula berubah di antara stikma peradaban. Keinginannya yang tidak di inginkan membuat arus perjalanan hidup berlawanan, kadang diriku menguatkan dengan tegar bahwa apa yang sudah membuat diriku berubah tanpa adanya keinginan dari dalam hati, aku tetap menerimanya, menjalainya dengan sugguh-sungguh. Begitu aku tidak menerima apa yang sudah di bentuk dan merubah diriku disitulah perputaran arah persimpangan jalan hidup yang melawan arus. Menginjak kata mengapa, lalu lalang impian bertebaran memasuki ruas-ruas saraf otak hingga terlelap.
Adakah yang dapat menerjemahkan dalam bahasa manusia modern, impian untuk merubah dirinya di dalam kondisi penyesalan dari perubahan yang tidak di inginkannya, suatu keinginan yang murni dari dalam diriku mengatakan, meskipun batu itu besar dan tegar menghadapi keadaan yang menimpanya ia akan selalu terdiam, tetap berada di tempat asalnya dan ia semakin bertahan berhari-hari untuk dapat mempertahankan bentuk rupa asalnya, namun tidak bisa di pungkiri perubahan pasti terjadi dan terus berlanjut hingga membentuk suatu kesadaran transcendental, yang jauh sebelum ia berada di dunia. Prinsip hidup seyogyanya menyerupai batu besar dan memiliki sifat ketegaran hati, diam dan berada di tempat asalnya, meskipun betebaran impian dalam dirimu, tetap kukuh dan tegarlah pada prinsip hidup yang kini sudah di tanamkan dari dulu. Memang benar ia diam tak beranjak pergi dari tempat asalnya kecuali di angkut tengkulak ke pasar atau keberadaannya menjadi keuntungan pengusaha, dijadikan tambang batu.
Katakanlah yang sebenarnya pada dirimu bahwa engkau mampu untuk merubah segala hal, mulailah dari sekarang dan selanjutnya engkau mempunyai kekuatan setegar batu, pejamkan mata mu biarkan nalar liar mu menjelajahi alam semesta. Sementara waktu terasa dekat dan cepat untuk mengakhiri suatu pekerjaan. Ya.. benar sekali kalau di renungkan. Memang banyak analogi rasional untuk menjelaskannya dan juga dapat berbagai persepsi yang tidak sama antara si pembaca dan intrepretasi dirinya dalam segala tindakan.