Tampilkan postingan dengan label Kritik Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Refleksi history : Pentingnya peran guru

     Wacana publik yang terlanjur beredar di kalangan masyarakat awam menjadi stigma hitam putih, bahwa informasi yang ia peroleh sukar untuk di terjemahkan dengan bahasa ilmiah, karena sesuatu hal yang ia anggap benar ya benar, namun lupa untuk menyaring sampai pada kebenaran yang ia cari. Supaya ia dapat memahmi suatu istilah, maka hendaklah ia membaca untuk menggunakan segala potensi indrawinya, dengan panca indra kita dapat empirism, dengan akal kita dapat rasionalsm. Katakanlah istilah profesi, saya tanya apa itu profesi, maka seseorang itu akan menjelaskan terlebih dulu pengertian profesi. Namun wacana yang terekspose tipologi profesi. Yakni, di dunia ini hanya ada dua profesi: guru dan non guru. Padahal, banyak profesi lainnya yang turut memberi sumbangan berharga pada peradaban umat manusia. Sebut saja, para peneliti misalnya. Mereka tergolong kaum intektual yang bekerja keras menghasilkan berbagai temuan dan berperan mengembangkan kemajuan ilmu pengetahuan. Diantara mereka ada yang berhasil mendapatkan hadiah nobel bergengsi tingkat internasional.

    Temuan-temuannya banyak membantu mengatasi masalah kehidupan hingga turut merubah peradaban. Guru merupakan suatu pekerjaan yang mulia. Apabila, para guru melakukan tugasnya secara ikhlas dan berdasarkan suara hatinya, maka mereka sudah memiliki “tiket masuk surga”Apabila, guru dalam mendidik muridnya dilandasi dengan kasih sayang, maka mereka juga akan mendapat tambahan bonus dicintai oleh para muridnya. Dengan demikian, guru yang baik akan memperoleh tiga “gaji” sekaligus. Yaitu, “gaji” ekonomis (uang), “gaji” teologis (amal ibadah), dan “gaji” sosial (kesan dan ingatan yang baik dari para muridnya, paling tidak didoakan).

    Sejarah bangsa Jepang memberikan kita pelajaran berharga terkait profesi guru. Di kala kota Hirosimma dan Nagasaki dijatuhi Bom Atom oleh tentara sekutu pada 9 Agustus 1945, yang menewaskan ratusan ribu penduduk kedua kota itu, pertanyaan yang dilontar Kaisar Hirohito bukanlah berapa tentara yang masih hidup. Tetapi, berapa jumlah guru yang tersisa dan dapat diperankan membangun peradabannya. Fenomena historis ini menunjukan bahwa guru memiliki status dan peran yang sangat terhormat dalam suatu bangsa. Di sisi yang lain,menujukan bahwa cara berpikir seorang pemimpin bangsa harus jauh ke depan dengan meletakkan peran penting aspek pendidikan, sekaligus menjadikan guru sebagai ujung
tombaknya.

    Pentingnya kepedulian terhadap aspek pendidikan juga ditegaskan dalam ajaran teologis. Sering kita dengar pernyataan yang diimitasi dari pandangan John Locke bahwa anak yang baru lahir bagaikan kertas putih (tabula rasa). Karena itu, anak harus dididik dengancara mengisi kertas putih itu dengan pengetahuan sarat manfaat. Bahwa setiap anak memiliki potensi multikecerdasan yang harus dibantu pengembangannya melalui pendidikan, sehingga bisa berkembang optimal. Van Eukul dan Kellog, Antropolog, telah melakukan penelitian terhadap anak manusia yang dibiarkan hidup diasuh oleh seekor binatang. Hasilnya, anak tersebut tidak mampu berkembang sebagaimana“manusia” umumnya anak itu berperilaku seperti biantang, human being-nya tidak bisa berkembang. Anak manusia hanya akan menjadi “manusia” apabila dia hidup dan dididik dalam lingkungan masyarakat. Dalam agama ditegaskan bahwacmendidik anak merupakan kewajiban orang tua yang diperintahkan oleh tuhannya. Pada masyarakat modern yang ditandai dengan menguatnya ideologi kapitalisme, tentu saja pendidikan menjadi sarana utama untuk memanusiakan manusia agar terbebas dari paham yang cenderung dehumanis tersebut. Pendidikan adalah sarana mengembangkan potensi dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

    Di tengah kontestasi global yang mulai mengakar hingga ke dunia berkembang, tampaknya kemajuan suatu bangsa tidak lagi ditentukan oleh banyaknya sumber daya alam, melainkan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya. Oleh karena itu, bangsa yang maju sering menempatkan pendidikan menjadi bagian utama dalam proses pembangunan dengan memberikan anggaran yang lebih (extra founding) dibandingkan bidang-bidang lainnya.

 

Penulis : Maulana Zaky

Editor : Kurniawan

Apakah pemikiran mu sama ?

    Malam itu menjadi untaian kata dari salah satu teman, berkata inti pendidikan di indonesia tidak jelas di kerucutkan kemana. Kita dengarkan dulu keterangannya mengapa dia merasa di bodohi oleh sistem pendidikan indonesia. tentunya ini merupakan pengalaman dari jenjang sekolah dan lebih lagi proses berfikirnya. Menakar sebuah pembelajaran dan perbandingan antara sistem pendidikan adalah hal yang harus diketahui, yang merupakan ke-ingintahuannya karena ia menganggap semua yang di peroleh dari bangku sekolah tidak memuaskan dalam arti upaya mendidik, katakanlah ada 30 siswa dalam satu ruangan kelas, di berikan pelajaran yang sama dan harus bisa dapat nilai tinggi, di sisi lain siswa harus pintar semua mata pelajaran. 

"Pikir ku, apanya yang gak jelas kerucutnya. emang kerucut itu bangun ruang". ketawa dalem hati!

    Berbusa-busa ia meneruskan, mengeluarkan jurus andalannya...."Aku kasih analogi ada harimau, kelinci, ular dan ikan, semua hewan di suruh memanjat pohon apa yang terjadi, si ikan ini tidak bisa memanjat pohon dan akan bodoh se-umur hidup". Padahal siswa memiliki potensi yang berbeda, kemampuan yang berbeda, karakter yang berbeda. Seharusnya pendidik memberikan pemahaman nilai-nilai kemanusiaan. Jika nilai-nilai itu tidak di ajarkan apa yang terjadi...siswa akan menjadi bodoh dan siswa jarang masuk sekolah, tidak ada semangat untuk belajar,

"Loh....logis si analoginya, tapi mengapa ia menyamakan siswa dengan hewan, otak ini terhanyut ke dalam pemikirannya, harusnya ane kontra", pikir ku....!

Siswa mengerjakan sesuatu di karena kan mereka suka bukan di suruh berbeda dengan pendidikan di negara maju di umur 3-5 (,TK ) siswa di suruh bermain sekolah dasar (SD) siswa baru di ajaran membaca dan menulis sekolah menengah pertama (SMP)- sekolah menengah atas (SMA) di ajar kan minat bakat bukan semua mata pelajaran hanya satu mata pelajaran yaitu bela negara

Semoga pendidikan di Indonesia semakin maju dan berkembang dan bisa bersaing di kancah internasional.dan guru bukan jadikan profesi guru haruslah di jadikan pengabdian.Selama aku sekolah dari jenjang tk-sd-smp-sma dan kuliah aku di bodohi oleh pendidikan di Indonesia kenapa aku berfikir dan yakin aku mengatakan hal ini kerena pendidikan di Indonesia tidak jelas di kerucutkan kemana.