Ia kemudian mengambi buku pelajaran
untuk di pelajari dan mengecek apa ada pr/tugas sekolah hari ini, kegiatan
selama ia sekolah tidak terlepas dari pekerjaan rumah dan belajar meski tidak
ada PR. Kadang ia mengikuti bimbingan belajar di samping rumahnya, kebetulan rumahnya
di depan sang pemilik bimbingan belajar kala itu. Bimbingan belajar hari ini
menuai kelesuhan murid/siswa karena kondisi pandemic covid yang belum usai, ketika
tahun ajaran baru di tetapkan pada tanggal 13 juli, bimbingan belajar pun mengikuti
untuk segera membuka kelas belajar. Menghindari penularan dan penyebaran virus
covid-19 harus wajib menerapkan protocol new normal yang berlaku seperti : cek
suhu sebelum masuk, cuci tangan sebelum dan sesudah belajar dan menggunakan
masker/face shield saat proses pembelajaran berlangsung maupun dari rumah ke
tempat bimbel. Dalam penerpannya ia sangat antusias dan menjaga jarak dengan
teman dan guru sehingga ia tidak leluasa dengan waktu istirahatnya yang
merupakan waktu untuk bermain dan sebagainya. Ia merasa protocol ini malah
menjadi beban terhadap aktivitasnya dan tidak nyaman. Memang benar untuk
menghadapi tatanan new normal ini ia harus adaptif terhadap keadaan seperti
ini, jika tidak hati hati dan menjalankan protocol tersebut di mungkinkan akan
tertular.
Mengamati keadaan ini beban PR dan kelas online/daring menjadi
masalah yang kompleks terutama masih seringnya terdengar tumpukan PR-PR yang ia
kerjakan, masih terdengar keluhan kelas online yang memakai banyak kuota data
internet. Kalau kita mau mengklasifikasikan mana anak yang mampu dan tidak
mampu maka akan menjadi disversitas dalam kemampuan menggunakan gadget. Kebanyakan
anak pedesaan masih minim untuk menguasai dan menggunakan gadget berbeda dengan
anak perkotaan yang selalu aktivitasnya bersentuhan dengan gadget. Penurunan angka
minat belajar di tenggah pandemic menjadi suatu ketakutan bagi anak dan siswa
terlebih dari peran orang tua yang sangat takut bila belajar di luar rumah.
Hal ini menyebabkan minat beajar di bimbel kurang karena di pengaruhi oleh pandemic covid 19, yang mana sebleum pandemic murid yang belajar di bimbel berumlah 200± sedangkan dalam kondisi pandemic murid/siswa yang belajar di bimbel berjumlah 80±. Dalam pandangan ini kami melihat kurangnya semangat belajar di tengah pandemic di karenakan pembelajaran hari ini hanya di kasih tugas, tugas dan tugas sehingga ia memandang bahwa kalau sudah menyelesaikan tugasnya dan mengumpulkan tugas di anggap sudah beres proses belajarnya.
0 comments:
Posting Komentar