Bimbel di tengah pandemi covid-19 masih perlukah!

BAGIAN 3

Ia kemudian mengambi buku pelajaran untuk di pelajari dan mengecek apa ada pr/tugas sekolah hari ini, kegiatan selama ia sekolah tidak terlepas dari pekerjaan rumah dan belajar meski tidak ada PR. Kadang ia mengikuti bimbingan belajar di samping rumahnya, kebetulan rumahnya di depan sang pemilik bimbingan belajar kala itu. Bimbingan belajar hari ini menuai kelesuhan murid/siswa karena kondisi pandemic covid yang belum usai, ketika tahun ajaran baru di tetapkan pada tanggal 13 juli, bimbingan belajar pun mengikuti untuk segera membuka kelas belajar. Menghindari penularan dan penyebaran virus covid-19 harus wajib menerapkan protocol new normal yang berlaku seperti : cek suhu sebelum masuk, cuci tangan sebelum dan sesudah belajar dan menggunakan masker/face shield saat proses pembelajaran berlangsung maupun dari rumah ke tempat bimbel. Dalam penerpannya ia sangat antusias dan menjaga jarak dengan teman dan guru sehingga ia tidak leluasa dengan waktu istirahatnya yang merupakan waktu untuk bermain dan sebagainya. Ia merasa protocol ini malah menjadi beban terhadap aktivitasnya dan tidak nyaman. Memang benar untuk menghadapi tatanan new normal ini ia harus adaptif terhadap keadaan seperti ini, jika tidak hati hati dan menjalankan protocol tersebut di mungkinkan akan tertular.

Mengamati keadaan ini beban PR dan kelas online/daring menjadi masalah yang kompleks terutama masih seringnya terdengar tumpukan PR-PR yang ia kerjakan, masih terdengar keluhan kelas online yang memakai banyak kuota data internet. Kalau kita mau mengklasifikasikan mana anak yang mampu dan tidak mampu maka akan menjadi disversitas dalam kemampuan menggunakan gadget. Kebanyakan anak pedesaan masih minim untuk menguasai dan menggunakan gadget berbeda dengan anak perkotaan yang selalu aktivitasnya bersentuhan dengan gadget. Penurunan angka minat belajar di tenggah pandemic menjadi suatu ketakutan bagi anak dan siswa terlebih dari peran orang tua yang sangat takut bila belajar di luar rumah.

Hal ini menyebabkan minat beajar di bimbel kurang karena di pengaruhi oleh pandemic covid 19, yang mana sebleum pandemic murid yang belajar di bimbel berumlah 200± sedangkan dalam kondisi pandemic murid/siswa yang belajar di bimbel berjumlah 80±. Dalam pandangan ini kami melihat kurangnya semangat belajar di tengah pandemic di karenakan pembelajaran hari ini hanya di kasih tugas, tugas dan tugas sehingga ia memandang bahwa kalau sudah menyelesaikan tugasnya dan mengumpulkan tugas di anggap sudah beres proses belajarnya.

SDM & TEKNOLOGI

BAGIAN 2

mencari materi dan berbagai kesulitan dalam hal penerjemahan kata istilah, penulisan surat, rumus matematika dan terjemah bahasa inggris. Tugas dari sekolah terasa mudah bagi siswa yang memahami soal yang akan ia kerjakan, lantas bagaimana dengan siswa yang tidak paham dengan soal yang ia kerjakan walaupun ada alat penunjang untu belajar. Persoalan ia paham dan tidaknya kami serahkan pada guru, bagaimana untuk bisa mencapai level paham/memahami. Kognitif merupakan level yang rendah dalam proses pembelajaran namun sebagai dasar/pondasi untuk bisa menguasai tingkatan tingkatan yang ada di level kognitif.. menurut kami untuk bisa memahami bacaan/soal langkah pertama adalah membaca terlebih dahulu sampai selesai, langkah kedua melakukan analisa imajinatif bacaan/soal yang ia baca. Langkah ketiga menulis hal penting/ide yang terkadung didalam bacaan, yang umum dalam hal pemahaman, ia dapat menceritakan ulang cerita yang ia baca. Secara teks memang mudah untuk di terapkan bagi kita yang mau mencari solusi agar ia paham pada suatu bacaan. Sedangkan kita yang membaca suatu bacaan/soal tentu bisa memahami dengan cepat karena sering membaca dan berpikir. Sumber daya manusia harus menjadi pembangun terdepan agar manusia dapat memahami dan menjadi gerbang utama dalam merealisasikan negara yang maju.

Sebagai orang yang pernah mendidik dalam kelas bimbingan belajar kami sangat menyayangkan ada hal semacam itu yaitu, 1) Apakah ia juga tanggap/menaggapi pembelajaran daring yang di lakukan oleh gurunya dan menyelesaikan tugas/pr yang diberikan oleh gurunya. 2) Setiap memegang gadgedt tidak luput dari paradigma bermain gadget (hapean) padahal ia sedang melakukan proses pembelajaran melalui daring. 3) Siswa yang tidak paham dengan soal yang ia kerjakan walaupun ada alat penunjang untuk belajar. Dari ketiga masalah diatas kami mengambil preposisi yang dominan terhadap subjek menjadi suatu paradigma, pemerataan teknologi informasi sebagai penunjang proses belajar yang berkemajuan dan berdaya saing. Sehinngga dalam pembangunan sumber daya manusia ini tidak menekankan pada teknologi saja yang di kembangkan, melainkan ada sector lain yang harus di kelola dan di kembangkan secara beriringan antara sumber daya manusia dengan teknologi.

Hapean itu belajar !

BAGIAN I

Di ceritakan seorang siswa yang mengalami perubahan pembelajaran dari pembelajaran tatap muka (ruangan kelas) beralih ke media sosial (Daring). Menanggapi transformasi pembelajaran melalui daring ia sangat senang karena ia dapat mengoperasikan applikasi/APP yang telah di download melalui playstore, seperti whatsapp, game, dan aplikasi media sosial lainnya. Tidak hanya itu ia juga dapat megirim pesan teks/chatting dan video call, dengan teman se-kelasnya, jika ia menemui kesulitan dalam mengerjakan tugas yang di berikan oleh gurunya. Raut wajah ceria dan gembira telah ia ungkapkan melalui emoticon/stiker setelah membaca chatting-membalas chatting dari temannya. Tentunya ia sangat paham tentang chatting/pesan teks di rana komunikasi. Namun apakah ia juga tanggap/menaggapi pembelajaran daring yang di lakukan oleh gurunya dan menyelesaikan tugas/pr yang diberikan oleh gurunya?

Ketika ia sudah mampu meng-operasikan gadget dan meng-unduh aplikasi yang berada di playstore sebagai penunjang/selingan, ada impact yang harus ia hindari, karena apa yang sudah ia unduh/download merupakan kesenangannya pada aplikasi tertentu. Sehingga proses yang di alami setiap memegang gadgedt tidak luput dari paradigma bermain gadget (hapean) padahal ia sedang melakukan proses pembelajaran melalui daring. Memang harus diluruskan paradigma yang seperti ini agar tidak membebani mental seorang siswa, karena trasformasi pembelajaran tradisional dilakukan tanpa ada gadget dan harus dilakukan secara tatap muka didalam ruangan kelas. Berbeda dengan pembelajaran daring yang akhir-akhir ini diakukan sebagai pembelajaran modern yang semua alat, penunjang berpusat pada gadget jadi sudah biasa jika tiap harinya memegang gadget dan menatap layar di tindak lanjuti oleh jari tangan yang selalu meng-scrolling.